Sejarah GPIB Petrus Tjideng Kapel

Tjideng Kapel

Tjideng Kamp

 

Persekutuan GPIB Jemaat PETRUS sebagaimana yang disampaikan secara turun temurun berawal

pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu lokasi tempat beribadah sekarang ini bernama

Tjideng Kapel. Kawasan Tjideng atau sekarang disebut Cideng bersama-sama dengan kawasan

Menteng adalah kawasan yang diperuntukan bagi kaum kaya Belanda sebelum masa pendudukan

Jepang. Pada masa Penjajahan Jepang tahun 1942 hingga 1945, Tjideng Kapel merupakan bagian

kamp tawanan untuk orang Belanda yang bernama Tjideng Kamp.

Kisah nyata mengenai Tjideng Kamp ditulis oleh salah seorang penyintas bernama Boudewijn van

Oort dalam buku berjudul Tjideng Reunion: A Memoir of World War II in Java.

 

Map Of The Camp

Tjideng Internment Camp At Batavia

 

Setelah berakhirnya masa pendudukan Jepang dan dilanjutkan dengan penyerahan kedaulatan

dari Belanda kepada Republik Indonesia pada tahun 1949, Tjideng Kapel kemudian diserahkan

kepada Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Tjideng Kapel berada dalam wilayah

pelayanan GPIB Betlehem yang berlokasi di kawasan Petojo Utara, Jakarta Pusat dan berubah

nama Ranting Cideng. GPIB Betlehem saat itu sudah memiliki 3 (tiga) ranting yang lain di lokasi

yang berbeda-beda yaitu Ranting Slipi, Ranting Grogol dan Ranting Brandweer di kawasan Duri

Pulo, Jakarta Pusat.